Kontraktor Tol Solo-Jogja

Pemerintah secara resmi mengumunkan pembangunan jalan tol yang menghubungkan Solo dan Jogja. Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi masyarakat. Bukan cuma masyarakat yang menanti kabar ini, tetapi juga perusahaan kontraktor tol Solo-Jogja.

Banyak perusahaan yang menanti-nanti kabar ini dengan maksud bisa berlomba mendapatkan saham dan ambil bagian dalam prosesnya. Beberapa waktu lalu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah mematenkan pemegang projek jalan tol Solo-Jogja.

Diketahui ada tiga kontraktor tol yang berhasil memenangkan tender. Antaranya adalah PT Daya Mulia Turangga-PT Gama Group, PT Jasa Marga (Persero) Tbk, dan juga PT Adhi Karya (Persero) Tbk.

Dari keseluruhan perusahaan yang berhasil memenangkan saham pembangunan tol Solo-Jogja, hampir 50% sahamnya menjadi milik perusahaan swasta, dan sisanya milik pemerintah. Proyek jalan tol Solo-Jogja yang sedang dalam proses pembangunan ini memang sudah sejak lama dinanti masyarakat.

Jika proyek ini selesai, tol akan menghubungkan dua provinsi. Yakni Jawa Tengah dan juga Daerah Istimewa Yogyakarta. Pemerintah berharap pembangunan ini dapat memangkas waktu tempuh masyarakat antar dua provinsi. Sekaligus, menghambat lajunya kemacetan yang sering terjadi.

Melihat tingginya antusias jasa bangun rumah Jogja serta kontraktor tol Solo-Jogja untuk memenangkan saham, tidakkah Anda penasaran berapa banyak keuntungan yang bisa mereka dapat dari proyek ini? Karena saya juga penasaran, mari kita cari tahu!

Keuntungan Jadi Kontraktor Tol Solo-Jogja

Ada yang tahu bagaimana kontraktor tol Solo-Jogja mendapatkan untung? Mungkinkah dari upah kerja harian? Lantas siapa yang menggaji kontraktor tol ini? Ternyata, konsep pendapatannya tidak seperti itu.

Kontraktor yang  memenangkan saham proyek tol tidak mendapatkan gaji langsung dari pemerintah. Konsepnya seperti investasi. Kontraktor berinvestasi dalam jumlah tertentu untuk pembangunan.

Karena sudah berinvestasi, maka mereka mendapatkan hak untuk mengelola aset atau jalan tol tadi. Perjanjian masa pengelolaan sampai kembali pada pemerintah ini menjadi kesepakatan antara pemerintah dan perusahaan kontraktor sebelumnya.

Sederhananya begini,  kontraktor tol Solo-Jogja A, memiliki saham senilai 25%. Dengan investasi tersebut, mereka mendapatkan masa kelola 40 tahun. Misalkan biaya pembangunan senilai Rp. 500 juta.

Pendapatan dari jalan tol selama masa kelola inilah yang menjadi keuntungan bagi kontraktor. Jika mereka mendapatkan Rp. 200 juta dalam 5 tahun, masih ada sisa masa kelola 35 tahun untuk mendapatkan keuntungan lain.

Setelah masa kelola ini habis, barulah aset jalan tol berpindah tangan dari kontraktor jalan tol Solo-Jogja kepada pemerintah.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *